Informasi IKA


Lain-lain





Perjalanan Karier Drs. Heryudo Kusumo, M.Sc


1. Kisah semasa kuliah

Baiklah adik-adik sekalian, melalui tulisan ini perkenankanlah saya sharing kisah perjuangan dan perjalanan hidup seorang alumni Fisika dalam meniti karir sebagai PNS sampai pensiun dengan "selamat". Dalam kisah tsb saya akan bercerita lebih dahulu tentang kegiatan sebagai mantan aktivis mahasiswa yang sangat berkesan bagi saya, sehingga tidak dapat dilupakan sampai saat ini. Mohon maaf apabila uraiannya cukup panjang. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan adik-adik sekalian. Semasa mahasiswa saya pernah menjadi Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Fisika, Ketua Umum Senat Mahasiswa FIPPA dan terakhir sebagai Sekretaris Dewan Mahasiswa UNPAD.

Sebelum MALARI, kami para aktivis mahasiswa dari berbagai kota seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Makassar, dll sering bertemu untuk membahas situasi dan kondisi negara kita yang sangat "mengkhawatirkan" saat itu. Pada saat itu ekonomi Indonesia "dijajah " Jepang, adanya Dwifungsi ABRI yang dikhawatirkan akan menggeser para sarjana lulusan Universitas/Perguruan Tinggi pada posisi jabatan-jabatan sipil dan dibentuknya Aspri (Asisten Pribadi) Presiden (dibawah bapak Ali Murtopo) yang sering memberikan masukan-masukan yang tidak benar sehingga Presiden Suharto sering mengambil kebijakan yang keliru (menurut kami para mahasiswa) yang merugikan rakyat dan masa depan negara kita.

Berdasarkan hal tersebut kami merencanakan untuk melakukan demonstrasi mahasiswa besar-besaran pada tanggal 15 Januari 1974 untuk menuntut agar dominasi Jepang terhadap ekonomi Indonesia dikurangi, Aspri Presiden dibubarkan, dan Dwifungsi ABRI dihapuskan.

Berdasarkan info dari teman sesama aktivis yang ayahnya menjabat sebagai salah satu komandan di Kodam Siliwangi, saya termasuk 10 aktivis mahasiswa yang akan ditangkap apabila di Bandung terjadi kerusuhan akibat demonstrasi mahasiswa. Berdasarkan hal tersebut, saya pernah bolos kuliah selama 2 minggu karena "disembunyikan" oleh teman-teman sesama aktivis di berbagai lokasi, baik di dalam maupun di luar kota Bandung untuk menghindari kejaran dari aparat berwenang.

Pagi hari tanggal 15 Januari 1974 setelah sholat subuh, saya bersama beberapa rekan aktivis keliling kota Bandung untuk meninjau situasi dan kondisi sebelum demonstrasi mahasiswa dilaksanakan. Kami terkejut setelah melihat bahwa para preman dan pemuda-pemuda yang tidak jelas asal-usulnya (bukan mahasiswa) telah menyebar di seluruh kota Bandung, terutama di pusat-pusat perbelanjaan dan siap untuk menjarah toko-toko tersebut apabila mahasiswa turun kejalan untuk berdemonstrasi. Artinya mereka "menunggangi" demonstrasi mahasiswa untuk menjarah toko-toko. Kami menduga ada yang membiayai dan menggerakkan mereka untuk keperluan tersebut, sehingga demonstrasi mahasiswa menjadi tercemar/tidak murni lagi.

Sepulang dari keliling kota, kami berdiskusi untuk memutuskan apakah demonstrasi mahasiswa jadi dilaksanakan atau tidak. Setelah melalui perdebatan yang cukup sengit, akhirnya diputuskan bahwa mahasiswa Bandung tidak jadi turun kejalan untuk berdemonstrasi. Selanjutnya dengan menggunakan mobil yang ada "halo-halonya", kami keliling kota Bandung untuk mengumumkan pembatalan acara demo mahasiswa tersebut. Kami diteriaki sebagai pengecut, mahasiswa bisanya cuma "omong doang", dll oleh para preman tersebut.

Langkah selanjutnya adalah kami berusaha menghubungi para aktivis di kota-kota lain untuk membatalkan demonstrasi karena dikhawatirkan akan terjadi kerusuhan. Sayangnya pada saat itu semua jaringan telekomunikasi seperti telepon dll tidak berfungsi, sehingga pagi itu rekan-rekan mahasiswa di seluruh Indonesia (kecuali mahasiswa Bandung) turun kejalan untuk berdemonstrasi.

Akibatnya saya kira sudah adik-adik ketahui, yaitu terjadi kerusuhan disertai penjarahan/pembakaran toko-toko dan produk Jepang seperti mobil, dll dikota-kota besar, khususnya di Jakarta. Tokoh-tokoh mahasiswa ditangkap, diadili, dan akhirnya masuk penjara, kecuali tokoh-tokoh mahasiswa di Bandung.

Dari ke 3 tuntutan mahasiswa tersebut, hanya tuntutan berupa penghapusan Dwifungsi ABRI yang tidak dipenuhi oleh Pak Harto, sehingga selanjutnya Dwifungsi ABRI berlangsung dengan “sukses", dimana hampir semua jabatan sipil, termasuk yang di BUMN, diduduki oleh perwira-perwira TNI dan POLRI. Akibatnya para lulusan perguruan tinggi banyak yang tidak "kebagian" jabatan tersebut.

Demikian adik-adik sekalian penyebab mengapa saya beserta tokoh-tokoh mahasiswa Bandung tidak ditangkap dan masuk penjara. Terus terang kami merasa"bersalah" terhadap rekan-rekan aktivis di kota lain atas kejadian tersebut, karena saya dengar mereka juga mengatakan kami sebagai "pengecut". Namun kami punya alasan tersendiri untuk itu, sehingga pada tgl 15 Januari 1974 kota Bandung "aman", artinya tidak terjadi penjarahan dan pembakaran terhadap toko-toko dan produk Jepang.

Untuk meredam "kekecewaan" mahasiswa, setelah peristiwa MALARI, Pak Harto memberikan tawaran kepada para tokoh-tokoh mahasiswa tersebut, yaitu berupa melanjutkan pendidikan diluar negeri, menjadi pejabat negara termasuk anggota DPR, diberi modal untuk usaha, dll. Banyak tokoh-tokoh MALARI yang menerima tawaran tersebut sehingga ada yang jadi doktor, anggota DPR, pejabat struktural di Departemen, pengusaha, dll.

Dalam hal tersebut saya salut kepada Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa UI yang diadili dan masuk penjara, karena beliau menolak semua tawaran tersebut setelah keluar dari penjara, dan lebih memilih berprofesi sebagai dokter sesuai dengan keahliannya, di samping mengurus organisasi "sepak bola".

Pada saat bekerja di BATAN, saya juga "ditawari" untuk menjadi "staf khusus" Menpora, dimana pangkat saya akan dinaikkan dari III.B langsung menjadi IV.A (atau naik 3 tingkat), tapi saya tolak karena saya ingin berkarir di bidang yang sesuai dengan profesi/keahluan saya, dan naik pangkat/jenjang jabatan atas kemampuan sendiri, bukan ditolong orang lain.

2. Awal Karier sebagai Dosen dan Berpindah sebagai Karyawan BATAN

Pada kesempatan ini perkenankanlah saya sharing kisah/pengalaman, mengapa saya berpindah karir dari Dosen UNPAD ke BATAN (sebagai peneliti). Semoga dapat menambah wawasan adik2 sekalian.


Diangkat sebagai Dosen. Setelah lulus Sarjana Muda tahun 1971, saya mendaftar utk diangkat sebagai Asisten Dosen Tidak Tetap di Jurusan Fisika Fippa UNPAD. Alasan saya waktu itu adalah agar dibebaskan dari biaya kuliah alias "kuliah gratis", disamping utk memperoleh honor yg besarnya "tidak seberapa". Sebenarnya ada alasan lain, yaitu agar bisa berkenalan dg mahasiswi yg cantik2 dari jurusan lain di Fippa maupun dari Fakultas lain di UNPAD, karena pelajaran Fisika Dasar dan praktikumnya diajarkan di semua Fakultas eksakta UNPAD. Pada waktu mengajar saya sering digodain oleh mereka, misalnya dg mengajukan pertanyaan2 yg mudah dijawab, bahkan menanyakan hal2 yg bukan merupakan materi kuliah seperti hobi, alamat rumah, dll. Ketika saya katakan bahwa salah satu hobi saya adalah mengumpulkan perangko, salah seorang mahasiswi cantik mengatakan bahwa ia punya banyak perangko yg ingin diberikan kepada saya, tapi saya harus datang kerumahnya utk mengambilnya.

Setelah ada formasi utk pegawai tetap/PNS, saya melamar dan diterima sbg pegawai tetap dengan Pangkat II.C karena masa kerja sbg pegawai tidak tetap diperhitungkan. Walaupun saya lulusan Sarjana Muda, saya sering ditugaskan sebagai dosen pengajar, karena pada waktu itu Jurusan Fisika Fippa sangat kekurangan tenaga pengajar bergelar Sarjana utk memenuhi kebutuhan semua Fakultas Eksakta di UNPAD. Lucunya, saya pernah menjadi dosen pengajar bergelar Sarjana Muda tapi mempunyai asisten dosen bergelar Sarjana karena beliau lulus duluan, sehingga saya jadi "tidak enak hati" thd beliau. (Beliau adalah senior saya di jurusan Fisika Angkatan 1964, sedangkan saya Angkatan 1968). Untung beliau baik hati dan tidak bersedia bertukar peran dg saya, sehingga saya tetap menjadi dosen dan beliau jadi asistennya.

Penyelesaian skripsi terhambat. Sambil mengajar, saya meneruskan kuliah di ITB berbarengan dg mahasiswa jurusan Fisika ITB karena dosennya tidak mau mengajar di UNPAD. Sambil kuliah saya mulai menyusun skripsi sarjana dg melakukan eksperimen/penelitian di PRAB (Pusat Reaktor Atom Bandung), dimana pembimbing saya adalah Pak Iyos Subki, yg waktu itu menjabat sbg Kepala Dinas Reaktor (Eselon III) dan akhirnya menjadi Direktur PRAB. Pada bulan September 1974 skripsi selesai disusun dan saya siap utk sidang Sarjana. Sebelum menandatangani skripsi, Pak Iyos menanyakan apakah setelah lulus Sarjana saya bersedia pindah ke BATAN. Tentu saja saya terkejut karena saya sudah diangkat sebagai pegawai tetap di UNPAD dan tidak ingin pindah ke PRAB. Agar beliau tidak kecewa, saya jawab akan pikir2 dulu. Beliau berkata silahkan pulang dan pikir2 dulu, dan skripsi saya tdk beliau tandatangani. Kejadian tsb berlangsung terus, setiap saya menghadap beliau utk menanyakan apakah skripsi saya sdh ditandatangani, beliau menyuruh saya pulang sambil pikir2 dulu karena saya belum memutuskan utk pindah ke PRAB. Tawaran beliau sebenarnya menarik, yaitu kalau saya mau pindah ke PRAB, maka pangkat saya akan disesuaikan ke Golongan III.A, dan disamping gaji tetap saya akan menerima insentif (tunjangan proyek) yg besarnya sama dg gaji pokok PNS Gol III.A, dan selanjutnya diangkat menjadi peneliti dg kemungkinan melanjutkan pendidikan ke Luar Negeri, disamping disediakan rumah dinas kalau sudah berkeluarga. Setelah 6 bulan "berpikir2" dg mempertimbangkan untung ruginya, akhirnya saya "menyerah" dan menghadap beliau sambil menyatakan bersedia pindah ke PRAB BATAN. Pada saat itu juga beliau menandatangani skripsi saya, dan tidak lama kemudian saya maju ke sidang Sarjana dan akhirnya dinyatakan lulus sebagai Sarjana.

Disesali teman2. Setelah teman2 sesama dosen di Fisika UNPAD maupun di Fakultas UNPAD lain mengetahui bahwa saya memutuskan pindah ke PRAB BATAN, mereka menyesali hal tsb, khususnya teman2 sesama aktivis mahasiswa yg menjadi dosen di UNPAD. Bahkan Kang Iwan Abdulrahman (sesama aktivis dari Fakultas Pertanian yg menciptakan lagu Mars UNPAD dan lagu2 utk grup musik Bimbo), menanyakan mengapa Mas Yudo tega meninggalkan UNPAD, padahal UNPAD sangat membutuhkan dosen2 seperti kita (mantan aktivis mahasiswa) untuk membina dan membimbing adik2 yg masih menjadi mahasiswa. Setelah saya jelaskan alasan kepindahan saya dan berjanji akan terus mengajar di UNPAD (sebagai dosen tidak tetap) selama saya masih bertugas di Bandung, barulah mereka memahami alasan saya tersebut.

3. Kisah sebagai Ketua Tim Indonesai dalam mendesain PLTN AP600

Pada thn 1991 saya ditunjuk sbg Ketua Tim Indonesia utk berpartisipasi dlm mendisain PLTN AP600, yg merupakan PLTN jenis baru yg didisain oleh Westinghouse. Westinghouse adalah perusahaan Amerika yg memasok/menyuplai PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) jenis PWR (pressurized water reactor) ke seluruh dunia. Tim Indonesia berjumlah 8 org yg terdiri dr 6 staf BATAN, 1 staf BPPT, dan 1 staf PLN. Tim tsb merupakan hasil seleksi/saringan dr sekitar 60 org yg mendaftar utk itu.

Lolos dr saringan. Utk menyaring/menyeleksi para pendaftar, Westinghouse mengirim 2 pejabat seniornya utk mewawancarai para pendaftar tsb selama 30 - 60 menit per org. Ketika tiba giliran saya, wawancara hanya memakan waktu 10 menit. Selanjutnya mereka memberikan kesempatan kepada saya utk "mewawancarai" mereka. Pd intinya mereka menjelaskan bahwa peserta yg lolos saringan akan dinilai setelah 6 bulan bertugas di Westinghouse. Kalau hasil penilaian menunjukkan bahwa peserta tsb tdk memenuhi standar kompetensi yg diberlakukan thd Staf Westinghouse, mereka akan dipulangkan ke Indonesia. Jika memenuhi standar kompetensi tsb, mereka boleh bertugas 6 bulan lagi disana. Alhamdulillah saya dinyatakan lolos seleksi/saringan.

Diberi ruang kerja tersendiri. Kantor Pusat Westinghouse berada di kota Moenroville, di negara bagian Pennsylvania, Amerika. Sebagai Ketua Tim Indonesia, saya diberi ruang tersendiri lengkap dg fasilitasnya spt komputer, telpon, dll, berbeda dg teman2 lain yg hanya diberi fasilitas berbentuk "cubicle" utk bekerja. Saya jadi tdk enak dg mereka krn mayoritas dr mereka adalah Pejabat Struktural Eselon III di instansinya masing2. Pada waktu itu (thn 1991) saya juga Pj Es III di BATAN.


Diberi tugas berat. Pada saat mulai bekerja, saya diberi dokumen yg berisi "Conceptual Design" PLTN AP600, dan hanya diberi waktu 2 hari utk mempelajarinya. Selanjutnya saya diminta mengevaluasi/menilai, apakah Desain PLTN AP600 tsb dpt memenuhi persyaratan keselamatan yg tercantum dlm Regulatory Guides (RG) yg diterbitkan USNRC (United States Nuclear Regulatory Commission). Setelah melihat jumlah RG yg harus saya pelajari, kepala saya langsung pening. RG tsb ternyata berjumlah sekitar 230 dokumen, yg tebalnya antara 30 - 50 halaman per dokumen. Setelah mengucapkan bismillah hirohmannirrohim sambil memohon bantuan Allah saya mulai bekerja. Setiap menyelesaikan penilaian Desain PLTN AP600 thd persyaratan keselamatan yg tercantum dlm suatu RG, "hasil kerja" saya tsb langsung diserahkan kepada staf Westinghouse yg kompeten utk dinilai. Setelah saya hitung, ada sekitar 50 staf Westinghouse yg menilai hasil kerja saya. Pada umumnya mereka "tdk keberatan" dg hasil kerja saya. Setelah "bekerja keras" selama 3 bulan, berkat pertolongan Allah SWT akhirnya saya berhasil menyelesaikan tugas tsb dg "selamat".

Diberi tugas yg lebih berat. Setelah menyelesaikan tugas diatas, saya diberi tugas yg lebih berat, yaitu membantu Westinghouse dlm menyusun dokumen SSAR (Standard Safety Analysis Report), yg merupakan salah satu dokumen yg disyaratkan USNRC utk memperoleh "Sertifikat Disain". SSAR tsb terdiri dr 16 Bab, dimana masing2 Bab terdiri dr beberapa Subbab sehingga jumlah Subbab dlm SSAR adalah 225. Setiap Subbab disusun oleh 1 kelompok kerja (working group/WG) yg terdiri dr 4-6 org. Utk menyusun SSAR, ditunjuk 16 Author yg bertugas mengkoordinir WG tsb. Saya ditunjuk sbg Author yg harus mengkoordinir 13 WG. Tentu saja saya kaget dan protes kepada Kepala Departemen "Safety and Licensing", yg kebetulan ditunjuk sbg "supervisor" saya selama berada di Westinghouse. Beliau menjawab sambil tersenyum:"Tenang saja Yudo. Saya tahu betul kemampuan kamu. Kalau tugas tsb diserahkan kepada Staf Westinghouse, pasti tdk akan selesai." Uniknya, para Author SSAR semuanya berasal dr Westinghouse, kecuali saya yg berasal dr Indonesia, padahal ada Tim lain yg berasal dr Korea, Jepang, India, Italia, Spanyol, dll yg juga berpartisipasi dlm mendisain PLTN AP600.

Mengajari Staf Westinghouse. Pada saat mulai bertugas menyusun Subbab SSAR, ternyata banyak Author Westinghouse yg bingung dlm melaksanakan tugas tsb. Author tsb akhirnya menyuruh anak buahnya (staf yunior) utk mencari informasi ttg bagaimana caranya menyelesaikan tugas tsb. Ada 3 staf yunior yg "mengadu" kepada Supervisor saya, dan beliau "dengan tenangnya" menyuruh mereka utk minta bantuan kepada saya. Akhirnya saya terpaksa "mengajari" mereka ttg bagaimana cara menyusun Subbab SSAR yg ditugaskan pd WG mereka.

Menyelesaikan tugas paling cepat. Utk memantau pelaksanaan tugas penyusunan dokumen SSAR, para Author diundang rapat sebulan sekali utk membahas "progress Report". Ternyata saya paling "rajin". Prosentase penyelesaian tugas saya selalu lebih besar dari para Author Westinghouse lainnya. Karena penasaran, Ketua Tim Penyusun SSAR meminta saya menyerahkan dokumen yg saya laporkan sdh selesai 50 persen. Saya deg2an juga krn khawatir membuat kesalahan. Setelah beberapa lama mempelajari dokumen tsb, beliau berkata:"Yudo, mengapa kamu laporkan dokumen ini sdh selesai 50 persen? Menurut saya, dokumen ini sdh selesai 75 persen!". Saya lega mendengar tanggapan beliau thd hasil kerja saya tsb.

Staf Westinghouse ditegur. Pada saat mengkoordinir WG utk menyusun Subbab SSAR, ada beberapa Staf Westinghouse yg tdk bersedia bekerja dibawah koordinasi saya. Rupanya berita ini sampai ke Supervisor saya, yg kebetulan menjabat sbg Kepala Departemen Safety And Licensing. Beliau langsung menerbitkan "surat peringatan" yg isinya adalah:"Para Staf Westinghouse yg ditugaskan utk menyusun dokumen SSAR harus bersedia bekerja dibawah Author/Koordinator yg ditunjuk. Kalau tidak bersedia, tdk akan dibayar!". Perlu anda ketahui, setiap Subbab SSAR dihargai berdasarkan EMH (engineering man hour), yg besarnya antara 50-100 EMH. Setiap EMH ada nilainya dalam bentuk US$. Setelah keluar "Surat Peringatan" tsb, banyak Staf Westinghouse yg datang kepada saya utk minta maaf.

4. Kisah selama Bekarier di BATAN

Alhamdulillah berkat pertolongan Allah SWT akhirnya saya berhasil mencapai Pangkat Tertinggi PNS (IV.E), jenjang struktural tertinggi (Eselon I, Setingkat Dirjen), dan jenjang fungsional tertinggi (Pengawas Radiasi Utama, kalau di Universitas setingkat Profesor atau guru besar) pada saat aktif sebagai PNS.

Pada awal bekerja sebagai Peneliti/PNS di BATAN, saya tidak diizinkan meneruskan pendidikan karena harus mengawasi pembangunan instalasi nuklir BATAN di Serpong. Tentu saja saya kecewa karena sebagai orang yang lebih menyukai kegiatan yang bersifat teknis/ilmiah, cita-cita saya adalah memperoleh pendidikan setinggi mungkin, syukur sampai S3 (doktor).

Rupanya atasan kasihan dengan saya (yg hanya berpendidikan S1), sehingga akhirnya beliau mengijinkan dengan syarat kuliah tidak mengganggu tugas pokok saya. Kebetulan di UI ada program S2 bidang material science yang kuliahnya dilaksanakan siang sampai malam hari, sehingga paginya saya masih dapat bekerja di kantor.

Setelah menyelesaikan kurikulum, saya kesulitan mencari bahan untuk thesis S2 karena baik literatur maupun fasilitas eksperimen/laboratorium dangat kurang di UI maupun di Indonesia saat itu. Kebetulan Jepang (dhi JAERI - Japan Atomic Energi Research Institute) menawarkan para peneliti BATAN untuk berpartisipasi dalam penelitian yang sedang mereka lakukan. Dari sekitar 70 pendaftar, hanya 11 yang lolos seleksi, termasuk saya.

Di JAERI saya ditempatkan di Laboratorium "high temperature/strength material", yang sedang melakukan penelitian untuk memperoleh material yang akan digunakan sebagai bahan reaktor fusi, yaitu reaktor masa depan yang sangat prospektif. Apabila reaktor fusi ini dapat beroperasi secara komersial, masalah kekurangan energi di dunia akan teratasi karena reaktor ini menggunakan hidrogen (yg cadangannya sangat melimpah di dunia) sebagai bahan bakar, disamping tidak menghasilkan limbah/sampah yang bersifat radioaktif selama beroperasi.

Pada saat ditanya tetang apa harapan saya berpartisipasi dalam penelitian ini (oleh Dr Motokuni Eto, Kepala Lab tersebut), saya jawab terus terang bahwa saya ingin mencari bahan untuk menyusun thesis S2 di UI. Beliau kelihatan "agak kecewa" karena harapannya paling tidak saya sudah bergelar S2 seperti para peneliti Jepang yang bekerja di Lab tersebut.

Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa pada saat ini lab beliau sedang melakukan penelitian terhadap material yang akan digunakan sebagai bahan reaktor fusi. Terhadap material tersebut sedang dilakukan "uji fatig" untuk mengetahui ketahanan material tersebut terhadap kondisi operasi reaktor fusi. Pada saat dilakukan pengujian, ada suatu fenomena fisika yang "aneh/membingungkan" karena berlawanan dengan hasil penelitian selama ini.

Selama dilakukan “uji fatig”, ternyata material di atas menurun kekuatannya, makin besar tegangan yang diberikan makin menurun kekuatannya. Fenomena ini dianggap aneh, karenaseharusnya material tersebut meningkat kekuatannya pada saat diuji fatig, walaupun rapuh/tidak ulet. Para peneliti di Lab tersebut tidak dapat mengetahui penyebab fenomena ini, walaupun mereka telah mencoba menjelaskannya dalam suatu makalah yang diterbitkan JAERI. Mereka memberikan makalah tersebut kepada saya untuk dipelajari. Tentu saja saya sangat terkejut karena jika para peneliti Jepang yang bergelar S2 dan S3 saja bingung/tidak dapat menemukan penjelasan tentang penyebab fenomena aneh tersebut, apalagi saya yang hanya bergelar S1 dari Indonesia.

Setelah menerima tugas tersebut, selama berhari-hari saya gelisah, bingung dan frustasi/stress. Setelah sering melakukan sholat istiqoroh/tahajud untuk memohon pertolongan Allah SWT, saya seperti mendapatkan "solusi"nya. Selanjutnya selama 1 bulan saya melakukan studi literatur di Perpustakaan JAERI. Saya sangat kagum dengan Perpustakaan tersebut karena sangat lengkap, literatur apapun yang saya butuhkan ada disitu. Akhirnya saya memperoleh jawaban/solusi yang saya yakin dapat menjelaskan fenomena aneh tersebut.

Setelah memperoleh solusi seperti di atas, saya diminta presentasi dihadapan para peneliti Jepang yang bekerja di Lab tersebut. Saya sampaikan bahwa untuk menjelaskan fenomena aneh tersebut saya mempunyai 2 hipotesa, yang harus diuji kebenarannya melalui penelitian lanjutan. Untuk mendukung hipotesa tersebut, saya cantumkan sekitar 40 referensi/literatur untuk itu. Rupanya mereka puas dengan penjelasan saya. Mereka heran dan menanyakan, dari mana saya memperoleh literatur-literatur tersebut, karena sebelumnya mereka juga melakukan studi literatur yang sama namun tidak memperoleh jawaban yang memuaskan. Saya jawab bahwa literatur tersebut saya peroleh setelah " membongkar" perpustakaan JAERI. Setelah presentasi di atas, saya diberi data-data hasil eksperimen yang telah 2 tahun mereka lakukan untuk dianalisa. Hasilnya saya tuangkan dalam makalah yang akhirnya diterbitkan oleh JAERI.

Minggu terakhir berada di JAERI, saya diberi penghargaan berupa "Certificate of Appreciation" oleh Dirjen JAERI dalam suatu upacara khusus, karena dianggap telah berjasa memberikan kontribusi yang besar terhadap JAERI. Ketika saya tanyakan kepada Dr Motokuni Eto, beliau menjelaskan bahwa saya diberi penghargaan karena dalam waktu 3 bulan berhasil membuat makalah hasil penelitian. Prestasi ini sangat jarang terjadi di Lab beliau. Biasanya para peneliti memerlukan waktu minimum 6 bulan untuk membuat makalah, bahkan ada yang sampai 2 tahun.

Ditawari melanjutkan penelitian. Pada saat "farewell party" utk melepas saya, Dr Motokuni Eto menawarkan saya utk melanjutkan penelitian selama 3 bulan lagi. Beliau mengatakan bahwa hasil penelitian saya tsb nantinya dpt digunakan utk menyusun disertasi Doktor. Dg halus saya menolak dg alasan "tugas berat" sudah menanti di Indonesia.

Pidato dlm Bahasa Jepang. Dlm acara tsb di atas saya menyampaikan sambutan/pidato perpisahan dlm Bahasa Jepang. Mereka merasa "surprise" krn materi sambutan saya sangat lengkap dan bagus (kata mereka). Mereka tdk menyangka saya bisa Bahasa Jepang krn selama berada di sana saya selalu menggunakan Bahasa Inggris utk berkomunikasi dg mereka.

Demikian adik2 sekalian kisah/pengalaman saya waktu berpartisipasi dlm kegiatan penelitian di JAERI. Dengan data hasil penelitian di Jepang tsb akhirnya saya berhasil menyusun thesis dan tidak lama kemudian menyelesaikan S2 saya. Lucunya, pada saat ujian sidang S2 di UI, pembimbing saya (Prof Dr Parangtopo Alm), setelah saya selesai presentasi, banyak "mengambil alih" tugas saya untuk menjawab pertanyaan para penguji, sehingga saya menjadi malu/tidak enak hati. Rupanya beliau merasa bangga (?) karena anak didik/bimbingannya melakukan penelitian utk menyusun thesis S2nya di Jepang, sehingga makalah yg saya buat dan diterbitkan JAERI ditunjukkan/dipamerkannya kepada para penguji lainnya (ada 4 dosen penguji UI yg bergelar Doktor).